Sabtu, 07 Oktober 2017

Berkunjung Candi Pawon

Mengunjungi Candi Borobudur dari arah Jogjakarta melalui kota Muntilan, sampeyan pasti akan menjumpai Candi Mendut. Diantara Borobudur dan Mendut sesungguhnya terhubung sebuah garis imajiner linear yang mengubung tiga titik candi sekaligus, Candi Mendut, Candi Pawon, dan Candi Borobudur yang termasyhur. Nah Candi Pawon inilah yang bisa jadi jarak dilirik pengunjung karena memang letaknya yang sedikit menjorok dari jalan utama.


Pawon, dalam bahasa Jawa memiliki arti dapur. Bisa jadi candi ini di masa lalu memang merupakan dapur atau pusat logistik, baik pada saat pelaksanaan pembangunan megaproyek Candi Borobudur, ataupun untuk melayani peziarah yang datang serta turut melakukan ritual pindapata dengan jalan kaki antara Candi Mendut ke Candi Borobudur. Namun sumber sejarah yang lain, sebagaimana pernah dituliskan oleh Wiratna Sujarweni dalam Jelajah Candi Kuno Nusantara, menyatakan bahwa kata pawon berasal dari “pawuan” yang berarti tempat persemayaman abu jenazah para raja di masa itu.

Candi Pawon yang merupakan candi peninggalan bercorak Budha ini juga dikenal sebagai Candi Brajanalan. Nama kedua ini sekaligus merupakan nama desa dimana Candi Pawon terletak. Brajanalan konon berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri atas dua akar kata, yaitu “vajra” yang berarti halilintar, dan “anala” yang berarti api. Vajranala merupakan senjata andalan Raja Indra, salah seorang keturunan Dinasti Syailendra. Konon di candi inilah pusaka tersebut disimpan.

Jika diukur dari Candi Mandut, Candi Pawon berjarak sekitar 1,5 km. Sedangkan jarak Candi Pawon ke induk Candi Borobudur sekitar 1,7 km. Jadi sangat dimungkinkan Candi Pawon justru berfungsi sebagai tempat peristirahatan para peziarah dari Candi Mendut yang akan naik ke Borobudur. Proses istirahat ini sekaligus merupakan tahapan penyucian diri sebagai persiapan untuk menuju Mandala Agung Swambara Budhura.

Dari arah Mendut, selepas jembatan Kali Progo kita akan menjumpai percabangan jalan menuju tiga arah. Arah kanan merupakan jalur menuju ke Salaman. Arah lurus ke depan langsung menuju kompleks Taman Wisata Candi Borobudur. Sedangkan cabang jalan paling kiri, dimana merupakan jalan yang paling sempit dan sepi akan mengarah ke Candi Pawon. Meskipun keberadaan Candi Pawon saat ini seolah tenggelam di kerapatan pemukiman penduduk, namun penataan tempat parkir dan beberapa kios pedagang di samping candi membuat keindahan panorama candi memiliki landscap yang cukup lebar.

Sebagaimana bangunan candi di Jawa Tengah yang lain, Candi Pawon juga tersusun dari struktur batuan vulkanik gunung berapi dengan perpaduan gaya bangunan Hindu Jawa Kuno  dan India dengan pola dasar bangunan berupa struktur punden berundak. Corak ragam hias pada dinding sekeliling candi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Candi Mendut maupun Borobudur. Pada dinding candi terdapat relief makhluk kayangan, seperti kinara-kinari (burung berkepala manusia), relief pundi-pundi, serta pohon kalpataru sebagai pralambang pohon keabadian. Konon dulunya di ruang dalam Candi Pawon terdapat patung Bodhisattwa sebagai penghormatan terhadap Raja Indra.

Dibandingkan dengan Candi Mendut, pengunjung Candi Borobudur yang mampir sejenak di Candi Pawon terhitung jauh lebih sedikit. Di samping letak bangunan candi yang nylempit dari jalur utama, bangunan candi yang lebih kecil, hal tersebut bisa juga disebabkan karena ketidaktahuan pengunjung mengenai keberadaan Candi Pawon. Namun satu-dua turis asing justru sering terlihat di candi ini. Mungkin bagi mereka, atau pengunjung yang benar-benat ingin mempelajari sejarah percandian, Candi Pawon justru merupakan sebuah bonus kunjungan dari Borobudur dikarenakan pengunjung sama sekali tidak dikenakan tarif masuk.

Dulu sewaktu saya masih kecil, di setiap Lebaran Bapak senantiasa mengajak sowan ujung ke para simbah di dusun Dipan, sebelah selatan kompleks Candi Borobudur. Di saat berangkat atau pulang, kami selalu diplipir-kan untuk melewati Candi Pawon. Ketika Bapak berujar bahwa candi yang kami  lewati bernama Candi Pawon, saya selalu berbikir apanya yang mirip dengan pawon? Kenapa candi tersebut diberi nama demikian. Nah pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah jelas jawabannya tersebut beberapa waktu yang lalu juga terulang dipertanyakan oleh anak dan para keponakan. Angon bocah ke Candi Pawon ternyata memang memompa energi penasaran dan rasa ingin tahu bagi para bocah.

CandiPawon6Sebagai sebuah pembelajaran untuk anak-anak maupun generasi muda, candi menyimpan sejuta misteri kahidupan yang dapat menjadi pondasi dasar jatidiri pribadi dan karakter yang kuat. Dengan jatidiri dan karakter yang kuat, bangsa Indonesia akan mampu melangkah ke depan dengan percaya diri dan sanggup menantang segala perubahan jaman. Hanya bangsa yang besarlah yang akan senantiasa menggali nilai sejarah para leluhur pendahulunya sebagai titik pijak untuk menyongsong hari esok yang lebih cerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gunung Kencana, Sensasi Alam Liar dan Tantangan Bagi Pendaki

Ada satu gunung di Bogor yang keberadaannya mungkin belum diketahui banyak orang. Gunung itu adalah Gunung Kencana. Terletak di Kampung Rawa...